Isu Pasien Negatif Dimakam Secara Protokol Kesehatan, Pihak RSUP Beri Klarifikasi

Tanjungpinang, Netkepri – Beberapa waktu lalu beredar isu negatif dimasyarakat tentang adanya pasien yang berstatus negatif namun dimakamkan dengan protokol kesehatan. terkait hal itu, Media Netkepri menghubungi Pihak Rumah Sakit untuk meminta klarifikasi atas isu tersebut.

Dalam penjelasannya, Pihak Rumah Sakit meyakini telah melaksanakan tugasnya sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang telah ditetapkan.

“Pertama dia diperiksa Antigen Negatif, cuman pemeriksaan penunjang itu ada yang namanya eksis dan entri jadi harus dua kali, kita juga mempertimbangkan kondisi klinis pasien misalnya dia ada riwayat demam, batuk sebelumnya kemudian pemeriksaan penunjang hasil paru-parunya kelihatan ada infeksi paru-paru, itu salah satu pendukung juga makanya belum bisa menyingkirkan bahwa pasien ini kecurigaan Covid-19 walaupun pemeriksaan antigen awalnya negatif,” Jelas Wakil Direktur Pelayan Medik dan Keperawatan, dr. Asep Guntur Safari, Rabu (20/10).

Diterangkannya, Walaupun Antigen Negatif kalau kondisi pasiennya tidak memadai dari sakurasi, paru-paru dan dari situ tidak bisa menyingkirkan mengarah ke Covid maka diperlukan Swab PCR.

“Kalau dari pedoman Kementerian kesehatan, kalau seseorang jenazah tuan X misalnya almarhum dia waktu meninggal itu masih suspek tentukan berarti masih curiga tapi hasil PCR belum keluar tapi kalau dari klinisnya pemerikasaan atau analisanya dia itu suspek makanya dirawat di ruang isolasi,” lanjutnya.

Lebih lanjut, untuk menentukan seseorang suspek itu juga bukan sembarangan mesti ada kriterianya dari riwayat, demam, rontgen, pemerikasaan oksigennya.

“Hanya prakteknya keluarga meminta kepastian, kami ada pertanggungjawaban juga dengan Kementerian kesehatan, misalnya dari riwayat anamnesis, dari gambaran rontgen, dari pemerikasaan oksigennya juga terjadi penurunan klisnisnya juga kemudian paru-parunya,” tuturnya.

Dirinya menambahkan, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Raja Ahmad Thabib telah mengantisipasi jika memang terjadi gelombang kasus Covid-19 susulan seperti Informasi yang sudah beredar.

“Kalau kita ada peningkatan kita akan buka ruang baru karena diawal kita buka satu ruangan ya, kalau dari SDM Perawat, Dokter sudah cukup, cuman kalau terjadi lonjakan kita akan alihkan ruang rawat inap biasa menjadi ruang rawat inap Covid,” tambahnya.

Dikatakannya, jika pada waktu terjadi lonjakan para Tenaga Kesehatan (Nakes) juga terkonfirmasi Covid-19 maka pihaknya akan memenuhi mobilisasi dari SDM pada unit lain.

“Jadi kita bisa ambil ruang rawatan inap yang lain, misalnya di ICU ada yang kena 3 orang kemudian kita lakukan tracking ternyata ada temennya tujuh orang juga, kalau di tracking dia tidak boleh kerja, dia isoman, disitu kita ambil dari SDM lain,” katanya.(Rud).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Serentak Dilaksanakan, Pemprov Segera Vaksin Anak 6 Sampai 11 Tahun

Tanjungpinang, Netkepri – Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau bersama Pemerintah Kabupaten dan Kota di Kepri tengah ...