Polemik Pembelajaran Daring, Alternatif Atau Masalah Baru

Disusun oleh :

Syafiga Alhaddad

Mahasiswi Pendidikan Kimia FKIP UMRAH

 

Di Indonesia, pandemi Covid-19 kian hari kian bertambah hingga saat ini mencapai 100.000 lebih kasus pasien terkonfirmasi positif Covid-19. Di Tanjungpinang sendiri mulai muncul kasus pasien terkonfirmasi positif corona sejak Maret 2020. Bahkan wilayah Tanjungpinang sempat termasuk ke dalam zona merah, kuning dan hijau dalam beberapa bulan terakhir.

Sejak pandemi Covid-19 melanda, berbagai sektor kehidupan di dunia mulai mengalami penurunan, seperti sektor kesehatan, ekonomi dan tidak terkecuali pendidikan.
Pendidikan di Indonesia telah berubah dari pembelajaran yang umumnya berlangsung secara tatap muka menjadi pembelajaran daring (dalam jaringan). Karena jika pembelajaran di kelas tetap dilanjutkan khawatir akan lebih meningkatkan penyebaran virus corona.

Mengingat sekolah merupakan salah satu tempat dimana manusia berkerumunan. Murid-murid dianggap masih belum bisa sepenuhnya menerapkan protokol kesehatan. Khawatir masih membawa virus usai kegiatan belajar di sekolah, yang akibatnya malah dapat menularkannya saat pulang ke rumah.

Oleh karena itu, pembelajaran secara tatap muka tidak dapat dilaksanakan. Maka, beralihlah pembelajaran yang semula terjadi di kelas menjadi pembelajaran daring.
Pembelajaran daring sudah berlaku sejak terbitnya Keputusan Bersama 4 Menteri tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Tahun Ajaran 2020/2021 dan Tahun Akademik 2020/2021 di Masa Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) Tanggal 15 Juni 2020 menyebutkan bahwa Satuan Pendidikan yang berada di Zona Kuning, Oranye dan Merah, dilarang melakukan proses pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan dan tetap melanjutkan kegiatan belajar dari rumah.

Hal ini pun berlaku di wilayah Tanjungpinang yang beberapa bulan terakhir sempat termasuk ke dalam zona merah, kuning dan hijau. Seperti yang kita ketahui, zonasi ini sangat bersifat dinamis. Sehingga di Tanjungpinang sendiri, pembelajaran daring masih diterapkan demi meningkatkan kewaspadaan terhadap peningkatan kasus baru positif Covid-19.
Pembelajaran daring sendiri merupakan kegiatan pembelajaran yang berlangsung secara digital menggunakan aplikasi berjenis video conference, Learning Management System (LMS), dll.

 

Bahkan pemerintah pun menyiapkan salah satu laman/aplikasi pembelajaran seperti rumah belajar untuk membantu siswa dan guru dalam menunjang kegiatan pembelajaran.
Pembelajaran daring saat ini diterapkan sebagai salah satu alternatif yang cocok untuk digunakan ditengah pandemi. Namun, kebijakan pembelajaran online atau daring ini sendiri sudah lama menuai kontroversi di tengah masyarakat, khususnya yang akan saya bahas pada jenjang satuan pendidikan dasar dan menengah.

Masyarakat resah karena pembelajaran daring dinilai sangat memberatkan terutama dari segi ekonomi. Karena kemampuan ekonomi keluarga setiap siswa berbeda-beda. Dalam hal ini banyak orang tua siswa yang keberatan, terutama masyarakat menengah ke bawah, yang masih memiliki kekurangan fasilitas gawai atau gadget. Bahkan sebenarnya hampir tiap kepala keluarga yang terkena dampak ekonomi akibat pandemi Covid-19 ini kesulitan memberikan fasilitas penunjang pembelajaran daring yang memadai bagi anak mereka.

 

Seperti yang kita ketahui, tidak semua siswa memiliki gadgetnya sendiri, terutama sebagian besar siswa di Sekolah Dasar yang masih harus meminjam gadget orangtua mereka untuk belajar. Namun, orang tua juga memiliki kewajiban untuk bekerja. Waktu mereka bekerja cenderung bertabrakan dengan waktu-waktu anak mereka sekolah. Sehingga tidak sepenuhnya orang tua mampu meluangkan waktunya untuk mengayomi belajar anak dan meminjamkan gadgetnya kepada mereka pada saat pembelajaran berlangsung.

 

Bagi orangtua siswa yang masih mampu meluangkan waktu nya untuk membantu anak mereka belajar pun masih memiliki kendala. Sudah lumrah kita ketahui bersama bahwa kemampuan penguasaan aplikasi pembelajaran online bagi orang tua siswa pun berbeda-beda. Orang tua siswa terkadang cenderung “baru” dan belum paham dalam menggunakan segala hal berbau IT, begitupun jika dihadapkan dengan penggunaan aplikasi pembelajaran online yang dinilai menyulitkan untuk digunakan.
Tidak hanya itu, bahkan beban kuota juga menjadi tanggungan yang besar. Apalagi dalam keadaan krisis ekonomi sejak pandemi Covid-19 melanda, mengingat sebagian besar bahan ajar yang diberikan kepada siswa cenderung lebih banyak menggunakan kuota berlebih karena beberapa bahan ajar harus diakses melalui video online ataupun youtube.

Di Indonesia sendiri didapati beberapa kasus kriminal pencurian yang dilakukan oleh oknum siswa atau orangtua siswa dengan motif lantaran ketidakmampuan keluarga dalam membeli kuota atau gadget untuk menunjang kegiatan pembelajaran daring. Suatu hal yang ironis. Disaat pendidikan bertujuan untuk mendidik dan membangun nilai-nilai karakter justru dengan keadaan terdesak untuk memenuhi fasilitas pembelajaran daring, nilai-nilai karakter malah kian mengalami kemerosotan.

Akhirnya, pembelajaran daring ini menjadi suatu polemik di kalangan masyarakat, karena khawatir bukannya sebagai alternatif tetapi malah menimbulkan masalah baru.
Disisi lain, sistem pembelajaran secara daring yang diterapkan juga menitikberatkan pada sistem penugasan. Karena sistem diskusi pada proses pembelajaran lebih banyak menguras kuota dan terkadang koneksi lemah juga menjadi hambatan yang nyata bagi peserta didik maupun pendidik.

Sehingga dalam pembelajaran daring hasil belajar dianggap menjadi suatu hal yang paling penting bagi kesuksesan pembelajaran dibandingkan bagaimana proses untuk mendapatkan hasil itu. Akhirnya esensi proses pembelajaran yang sesungguhnya itu sendiri kian terkikis. Karena tidak adanya lagi diskusi yang membangun antar guru dengan siswa dan hubungan interaksi antar siswa di sekolah. Dalam berbagai interaksi natural di lingkungan sekolah, itulah yang sebenarnya memberikan esensi dalam dunia pendidikan.

Dari sudut pandang guru, guru pun menjadi kesulitan membedakan mana siswa yang serius dalam belajar maupun yang tidak. Metode pembelajaran daring yang tidak bervariasi juga akan dapat menimbulkan kejenuhan belajar bagi siswa. Mereka juga menilai sulit untuk membuat siswa memahami materi dengan metode pembelajaran daring. Meskipun begitu pembelajaran harus tetap berlanjut, setiap guru tidak kehilangan akalnya dan terus berusaha untuk mencari solusi bagaimana pembelajaran yang berlangsung dapat diterima dan tidak terlalu merugikan semua pihak serta tentunya efektif untuk diterapkan.

Pembelajaran daring yang kita rasakan sekarang memiliki dampak yang signifikan. Walaupun jika diterapkan, beberapa kelebihan itu tetap ada, seperti siswa dapat menambah wawasan dan kemampuan dalam menggunakan aplikasi dan teknologi. Akan tetapi, permasalahan baru yang muncul juga tidak bisa diabaikan dan perlahan-lahan akan menggerogoti banyak aspek seperti krisis nilai-nilai karakter, terkikisnya esensi pendidikan, penurunan segi keuangan, dsb. Bahkan Walaupun pemerintah menetapkan kebijakan belajar daring, Menteri Pendidikan Nadiem Makarim pun mengakui bahwa pembelajaran tatap muka ialah pembelajaran yang lebih efektif.

 

Harapannya akan ada perubahan yang nyata dalam sistem pembelajaran ditengah pandemi yang dapat mengurangi dampak-dampak yang sudah dipaparkan di atas. Sistem pembelajaran dapat dikombinasikan antara luring dan daring. Syaratnya memang untuk pembelajaran luring sendiri, sekolah harus benar benar siap dalam melakukan beberapa hal perlindungan diri dari virus seperti kesiapan alat screening virus Covid-19, memberikan fasilitas Alat Pelindung Diri (APD) yang memadai dan ketegasan penerapan protokol kesehatan. Layaknya beberapa sekolah dinegara terdampak Covid-19 yang sudah membuka kembali sekolahnya dengan protokol kesehatan yang ketat dan disiplin.

Dengan kombinasi metode pembelajaran daring dan luring, harapannya siswa juga tidak lagi jenuh dalam belajar. Mengingat siswa selama ini sudah terlalu jenuh dirumah dan dengan bertumpuknya tugas sekolah malah hanya akan membuat para siswa bertambah stress. Semoga pandemi Covid-19 ini lekas usai sehingga pemerintah dapat mengatur kebijakan sistem pendidikan yang sesuai, efektif dan sebagaimana harusnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Bazar Kadin Di MTQ Kepri, Alfan Suheiri: Kita Dorong Ekonomi Masyarakat

Tanjungpinang, NetKepri.com – Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Kepri Alfan Suheiri mengatakan dengan ...