Produksi Padi di Kepri Tahun 2021 Alami Kenaikan, Berikut Penjelasannya

Tanjungpinang, Netkepri – Produksi padi pada 2021 diperkirakan sebesar 961,52 ton GKG atau mengalami kenaikan sebanyak 108,98 ton GKG atau 12,78 persen dibandingkan 2020 yang sebesar 852,54 ton GKG.

Hal ini dikatakan oleh Kepala BPS Provinsi Kepulauan Riau, Agus Sudibyodi ruang Kerjanya, Selasa (02/11).

Dikatakannya, Jika produksi padi dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, produksi padi sepanjang Januari hingga September 2021 setara dengan 396,60 ton beras, atau mengalami kenaikan sebesar 1,61 ton dibandingkan 2020 yang sebesar 394,99 ton.

“Potensi produksi beras sepanjang Oktober hingga Desember 2021 sebesar 150,79 ton beras. Dengan demikian, potensi produksi beras pada 2021 diperkirakan mencapai 547,39 ton beras, atau mengalami kenaikan sebesar 62,08 ton (12,79 persen) dibandingkan produksi beras 2020 yang sebesar 485,31 ton,” ujarnya.

Produksi beras tertinggi pada 2021 terjadi pada bulan Januari, yaitu sebesar 113,10 ton. Sementara itu, produksi beras terendah terjadi pada bulan Juni, yaitu sebesar 7,65 ton.

Pria yang sebelumnya bertugas di Provinsi Jawa Tengah ini menuturkan Produksi padi di Kepulauan Riau sepanjang Januari hingga September 2021 diperkirakan sekitar 696,64 ton GKG, atau mengalami kenaikan sekitar 2,77 ton GKG (0,40 persen) dibandingkan 2020 yang sebesar 693,87 ton GKG.

“Sementara itu, potensi produksi sepanjang Oktober hingga Desember 2021 sebesar 264,88 ton GKG. Dengan demikian, total potensi produksi padi pada 2021 diperkirakan mencapai 961,52 ton GKG, atau mengalami kenaikan sebanyak 108,98 ton GKG (12,78 persen) dibandingkan 2020 yang sebesar 852,54 ton GKG,” lanjut Agus.

Berdasarkan hasil Survei KSA, terjadi pergeseran puncak panen padi pada 2021 dibandingkan 2020. Puncak panen padi pada 2021 terjadi pada bulan Januari, sementara puncak panen pada 2020 terjadi pada bulan Februari.

Realisasi panen padi sepanjang Januari hingga September 2021 sebesar 211,04 hektar, atau mengalami penurunan sekitar 33,53 hektar (13,71 persen) dibandingkan 2020 yang sebesar 244,57 hektar. Sementara itu, potensi panen sepanjang Oktober hingga Desember 2021 sebesar 90,19 hektar.

“Dengan demikian, total potensi luas panen padi pada 2021 diperkirakan mencapai 301,23 hektar, atau mengalami kenaikan sekitar 2,71 hektar (0,91 persen) dibandingkan 2020 yang sebesar 298,52 hektar. Luas panen tertinggi pada 2021 terjadi pada Januari, yaitu sebesar 62,19 hektar, sementara luas panen terendah terjadi pada bulan Juni, yaitu sebesar 3,51 hektar,” ungkapnya.

Produksi padi tertinggi pada 2021 terjadi pada bulan Januari, yaitu sebesar 198,67 ton GKG , sementara produksi terendah terjadi pada bulan Juni, yaitu sebesar 13,43 ton GKG. Berbeda dengan produksi pada 2021, produksi tertinggi pada 2020 terjadi pada bulan Februari

“Tiga kabupaten/kota dengan total potensi produksi padi (GKG) tertinggi pada 2021 adalah Kabupaten Natuna, Kabupaten Lingga, dan Kabupaten Kepulauan Anambas. Sementara itu,
kabupaten/kota dengan potensi produksi padi terendah adalah Kabupaten Bintan,” jelasnya.

Diterbangkannya, Produksi padi diperoleh dari hasil perkalian antara luas panen (bersih) dengan produktivitas. Luas panen tanaman padi di lahan sawah harus dikoreksi dengan besaran konversi galengang.

Secara teknis, agus menjelaskan sejak 2018, BPS menggunakan metode KSA untuk penghitungan luas panen padi dan Luas panen padi dihitung berdasarkan pengamatan yang objektif (objective measurement) menggunakan metodologi Kerangka Sampel Area (KSA) yang dikembangkan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan BPS.

“Metodologi KSA telah mendapat pengakuan dari LIPI, ampai saat ini, metodologi KSA menggunakan 25.347 sampel segmen lahan berbentuk bujur sangkar berukuran 300m X 300m (9 hektar) dengan lokasi yang
tetap,” jelasnya.

Setiap bulan, masing-masing sampel segmen diamati secara visual di 9 titik dengan menggunakan HP berbasis android sehingga dapat diamati kondisi pertanaman di sampel segmen tersebut (persiapan lahan, fase vegetatif, fase generatif, fase panen, lahan puso/rusak, lahan pertanian ditanami bukan padi, dan lahan bukan pertanian).

“Hasil amatan kemudian difoto dan dikirimkan ke server pusat untuk diolah. Pengamatan yang dilakukan setiap bulan memungkinkan perkiraan potensi produksi beras untuk 3 bulan ke depan dapat disediakan sehingga dapat digunakan sebagai basis perencanaan tata kelola beras yang lebih baik. Saat ini Total amatan dalam satu bulan di Kepulauan Riau adalah 342 titik amatan, ” terangnya.

Estimasi angka produktivitas padi diperoleh dari Survei Ubinan. Sejak 2018, BPS menggunakan hasil Survei KSA dalam penentuan sampel ubinan.

“Penggunaan basis KSA dalam menentukan sampel ubinan bertujuan mengurangi risiko lewat panen sehingga perhitungan menjadi lebih akurat,” Katanya.

Penentuan lokasi sampel ubinan yang tadinya dilakukan secara manual saat ini menggunakan aplikasi berbasis android. Koordinat plot ubinan digunakan sebagai dasar dalam melakukan evaluasi dan analisa spasial ubinan.

“Pelatihan secara berjenjang juga telah
dilakukan untuk meningkatkan kualitas petugas ubinan. Selain itu, telah dikembangkan pula metode pengolahan data ubinan berbasis web dan software untuk pengecekan data pencilan (outlier) sehingga dapat meningkatkan kualitas data yang dihasilkan,” jelasnya.

Hasil pengamatan Survei KSA pada bulan berjalan dapat digunakan untuk mengestimasi potensi luas panen selama tiga bulan ke depan. Potensi panen satu bulan ke depan diperkirakan dari fase generatif, potensi panen dua bulan ke depan dari fase vegetatif akhir, dan potensi panen tiga bulan ke depan dari fase vegetatif awal.

“Sebagai catatan, angka produksi padi 2020 merupakan angka tetap. Sementara angka produksi padi 2021 merupakan angka sementara karena masih mengandung angka potensi luas panen (Oktober-Desember) dan menggunakan produktivitas tahun sebelumnya (September-Desember),” ungkapnya.

Angka luas panen 2021 terdiri dari angka realisasi luas panen Januari hingga
September dan potensi luas panen Oktober hingga Desember. Angka produktivitas yang digunakan untuk penghitungan produksi padi bulan September sampai dengan Desember
2021 merupakan angka produktivitas hasil Survei Ubinan Subround III 2020.

“Oleh karena itu, angka luas panen dan produksi padi/beras 2021 dapat berubah setelah diperoleh angka realisasi luas panen hasil Survei KSA periode Oktober hingga Desember dan angka realisasi produktivitas hasil Survei Ubinan Subround III (September-Desember) 2021,” terangnya.

Penghitungan konversi gabah menjadi beras memerlukan angka konversi GKP ke GKG dan angka konversi GKG ke beras. Pada 2018, BPS memperbaharui kedua angka ini dengan melaksanakan Survei Konversi Gabah ke Beras di dua periode musim yang berbeda dengan
basis provinsi sehingga didapatkan angka konversi untuk masing-masing provinsi.

Sebelumnya, survei hanya dilakukan pada satu musim tanam dan secara nasional. Angka konversi GKP ke GKG serta GKG ke beras hasil survei pada level provinsi digunakan dalam perhitungan produksi padi (GKG) dan beras. Angka tersebut bervariasi antar provinsi.

“Angka konversi dari GKP ke GKG untuk Kepulauan Riau sebesar 82,73 persen, dan angka konversi dari GKG ke beras sebesar 63,53 persen. Selain itu, perhitungan produksi beras juga memperhitungkan proporsi gabah dan beras yang susut atau tercecer dan digunakan untuk penggunaan non pangan,” tuturnya.(Rud).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Budi Prasetyo : 8 Daerah Kepulauan Perlu Landasan Atas Kedaulatan Laut

Tanjungpinang (Netkepri.com) – Menelisik pertemuan antara Badan Kerjasama Kepulauan yang di inisiasi Pemprov Kepri mengenai ...