Mangrove: “Kekayaan Alam Indonesia Sebagai Negara Maritim”

 

Ditulis oleh :
Daniel Septiono Siagian
Ditjen Kementerian Maritim & Lingkungan Hidup BEM KM UMRAH

Tanjungpinang (NETKepri) – Negara Indonesia terkenal memiliki potensi sumberdaya kelautan dan perikanan yang kaya. Hal ini sesusai dengan sebutan Indonesia sebagai negara kepulauan (archipelagic state) yang memiliki 17.508 gugusan pulau-pulau.

Dan karena hal itu pula Indonesia juga dikenal sebagai negara maritim dengan dua pertiga luas lautan lebih besar daripada daratan. Dikenalnya kita sebagai negara maritim tidak lain dengan adanya garis pantai hampr disetiap pulau di Indonesia ( + 81.000 km ) yang menjadikan Indonesia menempati urutan kedua setelah Kanada sebagai negara yang memiliki garis pantai terpanjang di dunia. Dari sepanjang garis pantai inilah yang menjadi rumah bagi ekosistem mangrove.

Sebagian besar masyarakat Indonesia mengenal mengenal Hutan Mangrove yakni sekumpulan pohon atau semak-semak yang hidup dan tumbuh di daerah pasang surut (kawasan pinggiran laut). Hutan mangrove juga popular dengan sebutan hutan bakau dikarenakan mayoritas populasi tanaman yang hidup pada hutan mangrove adalah tanaman bakau.

Hadirnya hutan mangrove sangat berperan penting dalam menjaga garis pantai agar tetap stabil. Mengingat kehadiran populasi pohon dan semak yang ada pada hutan mangrove tersebut dapat melindungi tepian pantai dari terjangan ombak langsung yang berpotensi menghantam dan merusak bibir pantai.

Secara harafiah, luasan hutan mangrove ini hanya sekitar 3 % dari luas seluruh kawasan hutan dan 25% dari seluruh hutan mangrove didunia. Mangrove merupakan salah satu ekosistem langka, karena luasnya hanya 2% permukaan bumi. Indonesia tercatat sebagai negara yang memiliki sepertiga mangrove didunia, yakni sebesar 20% dan diikuti Brazil sebesar 11% dari total mangrove didunia. Berdasarkan data dari pemerintah Indonesia, mangrove Indonesia memiliki luas 4,2 juta hektar dan karena terjadi deforestasi dalam kurun waktu 2000-2014, Indonesia tercatat sebagai penyumbang kehilangan hutan mangrove terluas didunia, yakni sekitar 4.364 km2 atau sekitar 311 km2/tahun. Kehilangan hutan mangrove selama 14 tahun setara dengan hilangnya sekitar 120 lapangan sepak bola per hari, 6 kali luas negara Singapura atau 6,5 kali Jakarta.

Padahal harus kita ketahui bahwasanya ekosistem mangrove adalah tulang punggung perekonomian Indonesia karena menyumbang lebih dari 40 trilyun rupiah per tahun dari sektor budidaya perikanan (KKP, 2015). Nilai tersebut menempatkan Indonesia sebagai raksasa perikanan dunia bersama-sama dengan China dan India (FAO, 2016).
Ekosistem mangrove memiliki peranan ekologi, sosial-ekonomi dan sosial-budaya yang sangat penting; misalnya menjaga stabilitas pantai dari abrasi, sumber ikan, udang dan keanekaragaman hayati lainnya, sumber kayu bakar dan kayu bangunan, serta memiliki fungsi konservasi.

Pada tahun 2011 hasil tangkapan dan konsumsi perikanan, crustacea dan molusca dari seluruh dunia adalah 78,9 juta ton atau 15,5 persen dari seluruh protein yang dihasilkan dari protein hewani. Permintaan dunia akan hasil laut telah meningkat secara dramatis beberapa dekade belakangan ini. Para peneliti mempercayai bahwa di masa depan, dunia tidak lagi dapat bergantung hanya kepada hasil perikanan tangkap laut lepas tetapi harus mulai menggali sumber-sumber lain yang potensial, salah satunya pada ekosistem mangrove.

Tidak hanya sampai disitu, hutan mangrove ini juga sangat potensial untuk dijadikan sebagai kawasan ekowisata. Sudah banyak kita dengar dan kita lihat bersama bahwa beberapa daerah di Indonesia menunjukkan peningkatan ekonomi dengan memanfaatkan hutan mangrove sebagi destinasi wisata. Menjadikan hutan mangrove sebagai kawasan pariwisata akan memberikan kesempatan bagi setiap masyarakat untuk membangun Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di daerahnya. Sektor pertanian terhadap peluang agribisnis di bidang home industry akan berkembang dengan pesat dengan memanfaatkan buah mangrove sebagai bahan dasar pembuatan sirup mangrove dan kripik mangrove.

Ditambah lagi, kawasan ekowisata mangrove juga dapat dijadikan sebagai sarana edukasi pembelajaran lingkungan hidup diluar sekolah bagi anak-anak.
Maka dengan begitu, demi mempertahankan keberadaannya dan memperbaiki ekosistemnya perlu dilakukan usaha nyata secara bersama-sama. Mengingat mangrove memiliki peran yang strategis, perlu diciptakannya iklim kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, swasta dan masyarakat dalam usaha pelestariannya. Dengan langkah tersebut diharapkan ancaman kehilangan mangrove dapat dicegah dan secara bersamaan kerusakan yang telah terjadi dapat dipulihkan secara efisien demi terwujudnya hutan mangrove sebagai kekayaan alam nusantara.(Bud)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Pagu Anggaran Organisasi Mahasiswa Di Pertanyaakan Heri Kurniawan Selaku Menteri Aksi BEM KM UMRAH

Tanjungpinang (NETKepri) – Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) merupakan Universitas negeri dikota Tanjungpinang yang ...