Sexy Killers Dari Tontonan Jadi Ajang Diskusi

Tanjungpinang (NET Kepri) – Sexy Killers merupakan tontonan yang di produksi oleh Tim Whatcdoc mendapatkan pertentangan oleh berbagai pihak baik oleh pihak KPU, Bawaslu dan Pemerintah di karenakan Filem Ini bisa memicu Golput padahal Filem Yang di produksi oleh Tim merupakan kisah yang di dapatkan dari keadaan lapangan dan menggambarkan tentang Lingkaran Calon Presiden dan Wakil presiden yang akan bertarung di Pilpres 2019

Untuk itu lah Ukm Persma Kreatif Fisip Umrah mengadakan nonton bareng (nobar) Di kedai Kopi alibi depan MAN TanjungPinang pada hari sabtu (13/04) untuk mengupas film yang lagi trend di kalangan masyarakat terutama Mahasiswa sebagai kaum intelektual

Sexy killers merupakan dokumentasi perjalanan 14 videografer dan 2 underwater fotografer selama satu tahun yang menguak tentang eksploitasi batu bara yang ada di Indonesia serta pembangkit Listrik PLTU

Film yang diproduksi oleh watchdoc ini mengungkap bagaimana bahayanya batu bara serta dampak-dampak yang ditimbulkan nya, baik untuk masyarakat maupun lingkungan sekitarnya

Nonton bareng yang diadakan pada malam minggu ini di hadiri oleh sederet tamu penting yaitu Presiden Air Lingkungan dan Manusia (ALIM) Khairjuli, Jailani selaku ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Nikolas Panama selaku Jurnalis sebagai penyampaian pemantik diskusi, Ferry Rahendra selaku pakar hukum dan dosen Di Universitas Umrah dan beberapa mahasiswa yang ikut gabung menyaksikan film

Pada sesi diskusi, Nikolas Panama membahas bagaimana tambang bauksit yang ada di bintan serta menjelaskan dampak kesehatan bagi masyarakat sebagai contoh yang ada di Lingkungan Kepri yang tidak kalah bahayanya dengan Batubara yang banyak tersebar Di Pulau Kalimantan

“banyak dampak negatif dari pertambangan bauksit bagi masyarakat yaitu bekas galian itu banyak dijumpai di Tembeling banyak lobang lobang di belakang sekolah SMA 1 teluk bintan ini bisa berakibat pada berkumpulnya sarang nyamuk dan berbagai hal lainnya Yang di khawatirkan lebih lanjut yaitu anak-anak bisa jatuh karena tidak ada pagar pembatas ” ungkap nya dalam pemaparan

Ia juga menjelaskan bagaimana tambang ini berpengaruh kepada lingkungan di laut yang bisa berakibat pada kesejahteraan nelayan dan pencemaran air Laut serta rusaknya terumbu karang

“Dampak bagi sektor lainnya ialah tentang kemaritiman dengan visi pemerintah ingin mensejahterakan masyarakat ternyata bertolak belakang dengan apa yang terjadi selama setahun terakhir ini, bauksit mengandung bahan aluminium besi dan lain lain yang ketika tumpah kelaut akan mematikan ekosistem yang ada dilaut,” Tambah Niko begitu sapaan akrabnya

Selain itu Karjulis selaku Ketua Organisasi ALIM juga mengapresiasikan film dokumenter ini dan melihat beberapa hal menarik serta menjelaskan bagaimana dilematis negeri ini.

”menarik film ini yang dibuat dari waktu kewaktu dengan pola investigasi dan dia sengaja mengambil momen penting dimana sesuai dengan amanat UUD 1945 pasal menyatakan bahwasanya setiap warga negara berhak mendapatkan lingkungan yang baik Seperti inilah dilematis negri ini karena dalam amanat UUD 1945 disebutkan bumi air dan kekayaan alam yang terkandung didalam nya itu dikuasai oleh negara untuk kemakmuran rakyat dan sampai hari ini tidak ada larangan atas kegiatan pertambangan hanya di perbaiki” Ungkap Karjuli

Negara juga memandang sumberdaya alam itu yang dikuasi negara harus memberikan kemakmuran Nah persoalan nya dalam proses justru malah memberikan dampak buruk kepada masyarakat yang terkena dampak dari proses produksi distribusi tongkang ke jawa serta proses operasinya lagi oleh PLTU karena masih memanfaat kan batu bara sebagai sumber energi hanya dengan alasan murah demi mengorbankan dan mengenyampingkan Lingkungan dan kesehatan sekitarnya

Diakhir penutup ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menyampaikan apa yang ditangkap dalam film ini serta menjelaskan 3 PLTU di kepri yang juga ikut menggunakan batu bara

“ batu bara kita di provinsi kepri ini khususnya batam tanjungpinang dan karimun turut menjadi masyarakat yang bertanggung jawab terhadap kerusakan lingkungan yang ada dikalimantan sana Karena di batam, karimun, tanjungpinang ada 3 pltu Dibatam PLTU tanjungg kasam itu membutuhkan sekitar 40.000 ton batu bara per 1 bulannya, Kemudian PLTU karimun membutuhkan sekitar 18.000 ton perbulan, dan Di galang batang sekitar 7.000-8.000 ton batu bara perbulan Jika membahas tambang ada konsekuensi positif dan negatifnya juga” tutup jailani sebagai pemateri terakhir (Bud)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Isdianto: InsyaAllah 2025 Kepri Sehat Tercapai

Batam (NET Kepri) – Isdianto selaku Plt Gubernur Kepri optimis program Indonesia Sehat akan mampu tercapai ...