Mari Mewujudkan Anti Golput

 

Dalam sebuah pemilihan umum kita sudah sering dengar tentang golongan putih (golput) terus apa sih itu golput? Golput itu keadaan seseorang yang sudah memiliki hak suara dalam pemilihan namun ia tidak memberikan suaranya dalam pemilihan tersebut, golput atau tidak nya seseorang menurut saya itu wajar saja mengapa karena seseorang yang ikut dalam pemilihan itu tidak bisa di paksakan jika pasangan tersebut tidak cocok sama karakter yang dia kehendaki serta visi misi dari seorang pemimpin tersebut masih belum jelas arahnya .

Di negara manapun sudah tidak heran yang namanya golput, golput sudah sejatinya tidak bisa di elakkan dari negara yang menjalankan sistem demokrasi sekalipun itu negara yang maju karena golput merupakan bumbu-bumbu penyedap yang tak bisa di hilangkan,  namun bisa di kurangi dari segi pemilih yang akan golput .

Di Indonesia istilah Golput sendiri merupakan cerminan dari bentuk perlawanan yang muncul menjelang pemilu 1971 Istilah ini sengaja dimunculkan oleh Arief Budiman dan kawan-kawannya sebagai bentuk perlawanan terhadap arogansi pemerintah dan ABRI (sekarang TNI) yang sepenuhnya memberikan dukungan politis kepada Golkar.

Di Negara Indonesia memilih merupakan hak sementara di Australia memilih ialah kewajiban di mana orang yang golput akan mendapatkan  ganjarannya berupa  denda, jika sistem ini di terapkan di Indonesia saya rasa akan sangat efektif untuk mengurangi tingkat golput dan akan menambah tingkat partisipasi masyrakat dalam hal memilih namun tidak terlepas dari sistem itu hal yang membuat seorang warga Negara tidak memilih mungkin karena tidak mendaptkan undangan, tidak terdaftar di DPT yang lebih parah lagi sudah mendapatkan surat undangan ,sudah terdaftar di DPT namun masih golput, mungkin pemikiran dari pemilih buat apa saya milih untung nya saya apa , mereka saya pilih palingan lupa pas menjadi anggota hanya umbar janji tanpa memberi bukti .bahkan nantinya mereka korupsi, mungkin itu hanya pandangan atau persepsi dari masyrakat yang menganggap pemimpin itu sejatinya tidak pro ke rakyat nya sendiri melainkan kepada pihak yang mengusung nya.

Tapi dalam keadaan untuk menuju Indonesia yang berdemokrasi hak  memilih itu sudah menjadi kewajiban tiap warga negara indonesia yang sudah berusia minimal  tujuh belas tahun / sudah kawin saat pemilihan, sayang nya kesadaran yang timbul dari hati nurani untuk memilih belum sepenuhnya timbul dalam diri masyrakat indonesia  saat ini ,

Demi mewujudkan pemilu yang maju dan adil kita sebagai rakyat seharusnya sudah tidak apatis lagi dalam pemilihan  Karena sebagai seorang yang mengerti dan bahkan sudah mengetahui apa yang menjadi HAK kita sebagai warga Negara sudah seharusnya kita lakukan  karena satu suara sangat berarti untuk 5 tahun Indonesia yang akan datang serta yakin  dan percayalah lima menit yang anda luangkan di kotak suara sangat menentukan Indonesia lima tahun kedepannya, ingat dalam pemilihan jangan ada rasa keterpaksaan karena pemilih yang cerdas bukan datang karena uang melainkan datang karena adanya panggilan jiwa dan kesaaman visi misi antara pasangan calon tersebut

Negara tersebut bisa di katakana demokrasi apabila di suatu negara tersebut memiliki  tingkat partisipasi yang tinggi sehingga memunculkan pemilu yang maju ,adil , cerdas dan berintegritas. Apa lagi kita sebagai mahasiswa yang merupakan  agen perubahan dan agen sosial kontrol sudah sejatinya kita mengawali kemajuan berdemokrasi di negeri  ini demi mensukseskan pemilu-pemilu yang akan di gelar mendatang namun sayangnya kita yang mengerti namun malah golput

Case kecil nih di Indonesia. Angka golput besar saya menduga-duga salah satunya adalah ulah mahasiswa yang malas pulang . Jumlah mahasiswa yang punya hak pilih itu banyak . 2012 lalu jumlah mahasiswa sekitar 4.273.000 orang di seluruh Indonesia. Oke saya tidak mengatakan seluruhnya berasal dari luar kota sehingga jauh dari TPS tempat ia seharusnya mencolokkan suaranya. Sample kecil-kecilan nih, di kelas saya yang berjumlah lebih dari empat puluh mahasiswa, lebih dari mahasiswa tersebut berasal dari luar kota atau kabupaten wow kan? Coba kita samaratakan sajalah, katakanlah 50% mahasiswa mahasiswi itu bukan berdomisili sekota/sekabupaten dengan domisili kampusnya. Berarti 50% dari 4.273.000 orang alias sebanyak 2.136.500 orang menggantungkan suaranya. Bisa dihitung jumlah itu berapa persennya dari total DPT sementara saat ini, 181.140.282 jiwa.ini hanya perkiraan saya saja namun sangat fantastis bukan?

Solusi untuk Mengatasi Golput yang efektif itu seperti mempermudah aturan bagi pemilih untuk dapat menggunakan hak pilih, Perbaiki sistem pendataan dan pendaftaran pemilih sehingga menjadi lebih mudah (perlu dukungan personil dan anggaran yang memadai) , Mengubah hak memilih menjadi kewajiban memilih (sebagaimana diterapkan di Negara Australia dan bahkan disertai dengan sanksi), Sistem pemilu yang digunakan harus sangat mudah dipahami oleh pemilih (misalnya dengan jumlah partai yang tidak terlalu banyak, tata cara memberikan suara yang mudah, design surat suara yang sederhana) , Waktu sosialisasi dan anggarannya harus disediakan secara cukup, sementara pada pemilu legislatif 2009 anggaran yang disediakan sangat tidak mencukupi.

Mengapa harus memilih???

  1. Dengan memilih kita bisa menyampaikan aspirasi kita kepada pemimpin yang telah kita pilih
  2. Dengan memilih kita sudah menjalankan HAK kita sebagai warga Negara Indonesia yang baik
  3. Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengharamkan Rakyat Indonesia yang memiliki hak pilih menjadi golongan putih (golput) dalam pemilu
  4. Memilih menentukan 5 tahun kedepan
  5. Satu suara anda sangat menetukan Indonesia kedepannya

Dalam  pemilihan kita selalu di hadapkan dan di benturkan  dengan adanya figure atau sosok pemimpin yang tidak berkompeten namun memiliki modal yang kuat untuk bisa maju menjadi seorang pemimpin di daerahnya walau begitu kita sebagi seorang warga Negara yang pintar sudah seharusnya pandai memilah dan memilih pemimpin yang sesuai hati nurani bukan melalui paksaan dari pihak manapun.

Pada dasarnya sentilan merupakan pematik semangat serta membuat seseorang tersebut menjadi malu akan tingkah lakunya yang senantiasa merasa di rugikan ,  “mengapa hari ini kau di pimpin oleh orang yang jahat , karena kau sendiri tidak peduli akan artinya sebuah pemilihan ,yang sejatinya pemimpin merupakan cerminan dari sebuah rakyatnya.

Sentilan , guyonan yang dianggap sebagai bentuk  atas aksi yang membudidaya di masyrakat yang menjadi bahan pematik semangat untuk tidak golput   serta banyak gambar lelucon yang juga  muncul di media-media saat ini baik  itu cetak , media elektronik maupun media sosial yang memuat agar masyrakat harus menghilangkan sikat apatis , acuh tak acuh yang tujuannya tidak lebih agar kita sadar betapa pentingnya suara anda saat pemilihan berlangsung .

Demi mewujutkan pemilu pada 17 April 2019  yang cerdas dan berintegritas serta maju dan adil sebaiknya kita sebagai warga Negara yang taat agama dan hukum sudah pastinya tidak akan golput , orang cerdas orang yang sadar akan bahayanya tidak memilih mengapa saya bilang begitu bayangkan saja anda punya calon pemimpin terbaik tapi calon yang anda dambakan tersebut tidak anda pilih , sehingga calon yang di rasakan bisa memimpin negeri ini tidak memiliki kekuasaan untuk memperbaiki ekonomi di negeri sendiri . karena  itulah satu suara anda sangat menentukan Indonesia kedepannya .

Tidak memilih  merupakan persepsi di mana kita harus serius menangani penyakit di masyrakat yang tidak peduli daerahnya sendiri, bukan karena kurangnya sosialisasi tapi  karena kurangnya kesadaran dari diri sendiri sehingga memunculkan sikat apatis sikap yang tidak boleh kita terapkan apabila kita ingin memajukan sebuah Negara yang berdemokrasi bukan hanya berdemokrasi tapi aspirasi masyrakat harus di junjung tinggi .

Jadi dapat disimpulkan bahwa golput adalah pilihan tidak memilih sebagai bentuk akumulasi rasa jenuh (apatis) masyarakat yang nyaris setiap tahun mengalami pemilihan kepala daerah, golput juga sebagai reaksi atau protes atas pemerintahan dan partai-partai politik yang tidak mendengarkan  suara rakyat, perlawanan terhadap belum membaiknya taraf kehidupan masyarakat baik secara ekonomi, politik, hukum dan budaya. Golput merupakan respon atas ke tidak mampuan partai atau penguasa dalam menjalankan fungsinya sebagai wakil rakyat yang telah menerima tugas.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Dua Pesawat Menembak Markas Mako Lantamal IV Tanjungpinang

Tanjungpinang (NETKepri) –  Dua pesawat tempur tak dikenal menghujani peluru ke Markas Komando Pangkalan Utama ...