Festival pulau penyengat sebagai destinasi untuk menarik wisatawan

Tanjungpinang (NETKepri) – Festival Pulau penyengat merupakan acara Untuk memperingati hari jadi Pulau penyengat yang ke 215 ini akan di laksanakan selama 4 hari

Acara ini di laksanakan sejak tanggal 14 Februari sampai 18 Februari 2019 yang di isi serangkaian acara mulai dari tabligh Akbar, acara kerakyatan pameran foto dan lain nya Untuk memanjakan para pengunjung yang ingin melakukan wisata ke pulau penyengat

Festival Pulau Penyengat yang di laksanakan oleh Pemerintah Kota Tanjungpinang, sebagai upaya untuk melestarikan tradisi dan sejarah kehidupan bermasyarakat Bangsa Melayu di kota itu.

Pulau Penyengat sejak dahulu dikenal sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Melayu (Riau-Lingga) yang berpusat di penyengat sebagai salah satu hadiah dari perkawinan

Di pulau yang dari Pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjungpinang bisa ditempuh dengan perjalanan kapal tak lebih dari 15 menit itu, sangat kaya dengan situs-situs peninggalan sejarah Melayu.

Di antara yang sudah populer di masyarakat dan wisatawan adalah Masjid Sultan Riau yang di buat dari bahan telur dan juga dibangun pada tahun 1832 serta memiliki Gurindam 12 karya Raja Ali Haji.

Dalam hal ini pulau penyengat sangat khas dan relegius sebagai pusat peradaban Melayu, terlihat bahwa di sini memiliki situs sejarah dan cagar budaya masih tersusun dengan rapi, balai adat Melayu juga menjadi tempat serangkaian acara festival pulau penyengat di situ juga di lakukan festival foto, lomba berpantun dan serangkaian acara menarik lainnya

“Pulau penyengat walaupun kecil tapi merupakan situs sejarah yang besar, di sini lah khubah mesjid pertama yang masuk ke Indonesia di sini juga sebagai tempat pertama agama Islam dan orang Melayu, ini bukan saja yang pertama di Indonesia mungkin ini pulau penyengat bisa jadi masuk warisan budaya UNESCO” ungkap Syahrul

Karena itu, tak heran jika Pulau Penyengat menjadi destinasi wisata sejarah dan religius oleh pemerintah daerah kota Tanjungpinang maupun Provinsi Kepulauan Riau dan sudah dipatenkan menjadi Warisan Budaya Nasional oleh Pemerintah Indonesia.

Pulau Penyengat juga tengah menanti penetapan menjadi Warisan Budaya Dunia dari UNESCO, serta lembaga PBB.

“Festival Pulau Penyengat bukan sekadar kegiatan untuk mendorong kemajuan sektor pariwisata. Tapi lebih dari itu, festival ini untuk melestarikan tradisi, bagian yang sudah tak terpisahkan dalam perjalanan masyarakat Melayu, khususnya Tanjungpinang sejak ratusan tahun yang lampau,” kata Syahrul.

Banyak kegembiraan dapat ditemukan di Festival kali ini Wisatawan yang datang dapat menikmati lebih dari 20 kegiatan seni budaya di sana, seperti lomba dayung, lomba dayung bantal di laut, lomba tangkap bebek di laut, lomba gurindam 12, dan kompetisi becak bermotor dekoratif. Tiga acara teratas adalah Malay Fashion Penyengat Serantau, Short Film Netizen Stinger Halal Competition, dan the Halal Competition Stinger Pattern Tour. (Bud)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Wanita Di Bawah Umur Di Setubuhi Oleh Orangtua Angkat Dan Pacarnya

    Tanjungpinang (NETKepri) – Bertempat di lobi Polres Tanjungpinang dilaksanakan Konferensi Pers Tindak Pidana ...