Pulau Pejantan di Kabupaten Bintan, Pulau Terisolir Yang Butuh Ustadz dan Musholla

Di Pulau Pejantan, Ketika Ada Yang Meninggal Hanya  Kafani langsung di Kubur

Bintan (NetKepri) – Pulau pejantan berada di kabupaten bintan tepatnya berlokasi di desa mentebung kecamatan tambelan dan dihuni sekitar 60 jiwa. Untuk menuju ke pulau pejantan dibutuhkan keberanian karena medan tempuh yang ekstrem, mungkin disinilah awal mula lahir nama pulau pejantan. Selain itu bisa juga berasal dari batu yang hampir mirip dengan ayam jantan.

Pulau ini bisa dikategorikan terisolir dikarenakan pulau ini sulit untuk dijangkau oleh masyarakat umum dan minimnya bantuan.

Kami coba menghubungi seseorang yang pernah singgah di lokasi tersebut selama sebulan, dengan akun Facebook Budi sahrul dengan nama lengkap Budi bin syahrul

Ia juga mengungkapkan alasan sebenarnya pergi ke pulau pejantan, yang hanya ingin melakukan tugas kerja sebagai seorang pengawas lapangan.

“Saya disana dalam rangka tugas pendirian jaringan telepon GSM indosat dan saya sendiri dari BP3TI Kominfo bertugas sebagai pengawas lapangan,” ujar budi.

Selain bekerja di sana rupanya Budi melihat kehidupan masyarakat di sana tidak seperti mayoritas penduduk muslim pada umumnya bahkan di pulau ini masyarakat nya masih minim pendidikan agama.

“Di sini pulau tersebut tidak memiliki ustad , bahkan ketika ada orang meninggal pun mereka hanya bisa mengkafani nya saja tidak di sholat kan Bahkan mayat tersebut langsung di kubur,” ucap Budi sahrul, Kamis (6/9).

Di pulau pejantan yang mayoritas penduduknya muslim tidak dapat kita temui surau ataupun musholla, masyarakatnya belum bisa mengaji dan bahkan tidak melaksanakan sholat.

“tidak ada musholla atau mesjid, sekolah ada tapi tak ada guru, jadilah saya guru walau dadakan, sekiranya ada yang mau menyisihkan sedikit hartanya mari kita Galang untuk membangun musholla atau mesjid dan mengirim guru agama dan guru-guru lainnya kesana,” tambah Budi sahrul dengan penuh harap.

Keinginan masyarakat disana untuk memiliki ingin ustadz yang bisa membimbing mereka, selain sebagai imam mereka juga berharap adanya yang bisa menjadi pemimpin khutbah sholat Jumat maupun sholat hari raya sesuai ajaran Islam yang semestinya

“Waktu malam takbiran idul adha 1439 H tahun ini saja mereka bukan takbiran melainkan menari lagu-lagu dangdut dengan speaker yang sangat kencang suaranya sambil menari erotis dan yang menontonnya adalah bapak bapaknya sendiri, remaja putrinya menari seperti tarian erotis Dan waktu idul adhanya tak ada sholat Id nya karena tak ada yang bisa menjadi imam dan khutbah,” ungkap Budi langsung kepada wartawan Net Kepri melihat keadaan yang miris ini. (Red/Bud).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Salahkah Mahasiswa Berunjuk Rasa

Tanjungpinang (NETKepri) – Unjuk rasa adalah salah satu tindakan pergerakan yang dilakukan oleh sejumlah orang ...